Cerita dibuka dengan memperlihatkan seorang anak laki-laki mengenakan jaket bernama Aleosa, yang baru saj pulang dari sekolahnya dan sedang berjalan-jalan sendirian. Ia bermain-main dengan garis batas polisi yang ditemukannya, seolah sedang mengulur waktu untuk pulang. lalu di apartemenya Aleosa sedang menatap kosong kearah jendela kamarnaya. mengabaikan buku pelajaran sampai bel apartemen berbunyi dan Aleosa tersadar dari lamunan.
Ibu Aleosa bernama Zenya masuk ke kamarnya, memperingatkan dengan nada mengancam agar Aleosa merapikan kamarnya karena orang yang mau membeli apartemen mereka sudah datang. Aleosa tidak mendengarkan perkataan ibunya, dan menutup pintu kamar dengn keras. Ia kembali mengerjakan tugas sekolah, sementara ibunya menemani sepasang suami istri yang yang sedang melihat lihat kondisi apartemen mereka.Begitu masuk kekamar Aleosa ibunya memukul kepala aleosa dan memerintahkannya untuk menyapa tamu-tamunaya. Aleosa menyapa mereka namun kemarahan ibunya berlanjut dengan mengatakan sesuatu tentang sikap Aleosa membuat Aleosa kesal dan keluar dari kamar. Malam tiba, Zenya terlihat sedang meminum wine dan memandangi layar ponselnya yang menampilkan foto-foto di media sosial,
Boris ayah Aleosa pulang mereka mulai membicarakan hak asuh Aleosa dan saling melempar tanggung jawab, tidak ada yang mau membawa Aleosa setelah perceraian mereka bahkan muncul gagasan untuk menyerashkan Aleosa ke panti asuhan . Boris dan Zenya pun mulai bertengkar dan berteriask satu sama lain. diam-diam Aleosa mendengar orang tuanya yang bertengkar dan menangis dikamar mandi.Pertengkaran mereka selesai setelah Zenya meninggalkan Boris untuk tidur sementara Aleosa masih melanjutkan tangisnya didalam kamar. Sarapan paginya tak habis, Aleosa mengatakan pada Zenya bahwa ia tak lapar lagi, Zenya berhenti memandangi poselnya dan melihat Aleosa yang tampak lesu, ia menanyakan apakah Aleosa sakit. namun Aleosa menjawab bahwa ia tidak sedang sakit Zenya percaya dan kembali sibuk dengan ponselanya, tak menyadari bahwa putranya saat itu mengeluarkan air mata.
Aleosa bergegas pergi dari rumah mengenakan jaket merahnya dan membawa ransel, Ibunya berfikir bahwa Aleosa akan pergi kesekolah hari itu, tapi Aleosa punya tujuan lain. Boris dan Zenya menjalani rutinitasnya masing-masing berangkat ke kantor dan bekerja. Mereka belum menyadari keadaan Aleosa dan tidak pula menghawatirkannya. Boris lebih menghawatirkan pekerjaannya jika dia bercerai dengan Zenya, mengingat bahwa perusahaan tidak akan menerima karyawannya yg bercerai, dan akan segera memecatnya jika ketahuan. Sedangkan Zenya dikantornaya yang merupakan sebuah salon kecantikan memang mengharapkan Boris dipecat setelah mereka bercerai, serta membicarakan tentang pacar baru Zenya pada temannya yang sedang menata rambut dirinya.
Mereka tidak sedikitpun menghawatirkan Aleosa, selesai bekerjapun mereka sibuk dengan kekasih baru masing masing yang menuurut mereka jauh lebih memahami sifat mereka dan bisa membuat mereka bahagia. tak ada yang pulang keapartemen malam itu, Boris menghabiskan waktunya dirumah Masa. Zenya menghabiskan waktunya dengan berkencan dengan Anton. Mereka benar-benar melupakan aleosa dan tidak menyadari bahwa putra mereka telah menghilang.
Zenya pulang ke apartemen saat pagi dan langsung tertidur, dia masih belum menyadari putranya menghilang. Boris sedang berada di kantin kantor saat Zenya menelpon dan mengabarkan pihak sekolah menelpon akibat Aleosa tidak masuk sekolah selama dua hari. Zenyapun menanyakan keberadaan Aleosa pada Boris, tetapi sama seperti Zenya karena tidak pulang ke apartemen, Boris pun tidak mengetahui keberadaan Aleosa. Lalu Zenya mulai panik dan mencemaskan Aleosa. Namun tidak dengan boris ia justru menyalahkan zenya karena ketidaktauannya dan bersika biasa-biasa saja saat itu. Boris masih berfikir positif dan menebak-nebak keberadaan Aleosa. Mendengar apa yg dikatakan boris membuat Zenya kesal dan mematikan telpon.
Dengan inisiatif sendiri Zenya pun melaporkan hilangnya Aleosa pada Polisi, namun kekacauan menimpa Zenya, tidak seperti yang diharapkan nya dari pihak kepolisian, mereka tidak membantu sama sekali, mereka hanya berfifikir Aleosa hanya kabur dari rumah dan akan kembali lagi setelah beberapa hari. Lalu Polisi yang menangani kasusnyapun mengatakan data yang diberikan Zenya hanya formalitas belaka. Kepolisian terlalu sibuk menghadapi kasus lain sehingga tidak mungkin melakukan pencarian pada Aleosa. setelah memberi saran pada Zenya untuk menghubungi relawan pencarian dan penyelamat, Polisi itupun pergi.
Tak mau menunggu tindakan Polisi yang sangat lama, Zenya memutuskan untuk menghubungi Grup Relawan Pencarian dan Penyelamat. Kordinator relawan Ivan, menanyakan hal-hal terkait Aleosa pada Zenya dan Boris, mereka tak dapat menjawab banyak karena mereka bahkan tidak mengetahui keseharian Aleosa. Ivan kemudian mengarahkan mereka agar menemui Ibu Zenya dan mencari tahu apakah Aleosa pergi kesana. Meski sempat menolak karena mereka yakin Aleosa tidak mungkin pergi kesana sebab Neneknya tidak menyukainya.
Tetapi akhirnya mereka pergi juga bersama seorang relawan bernama Lena. Mereka mulai bergerak melakukan pencarian berdasar arahan Ivan dan diperjalanan menuju rumah Ibu Zenya. Lagi-lagi Boris yang masih ingin berfikir positif terhadap keadaan Aleosa mulai menyalahkan putranya itu atas kekacauan yang terjadi dan berniat menghukumnya jika Aleosa ditemukan. Kemudian pertengkaran antara Boris dan Zenya kembali terjadi didalam mobil, hingga Zenya berteriak frustasi.
Beberapa saat kemudian mereka sampai digerbang menuju rumah Ibu Zenya bersama Lena yang mengikuti mereka menggunakan mobil lain. Didepan rumah Ibu Zenya mereka tertahan karaena gerbang masuknya dikunci. Tak ada pilihan lain Lena melompati gerbang itu dan membukanya dari dalam. Begitu masuk Ibu Zenya marah-marah karena mereka menerobos gerbang. Terlihat zenya mendengarkan ibunya berbicara dengan suara keras dan memaki.
Zenya begitu tertekan dengan sikap Ibunya. sementara Lena masih melakukan pencarian disekitar rumah Ibu Zenya. Dengan hasil yang nihil, Lena dan Boris masuk kedalam rumah dan ikut mendengarkan Ibu Zenya yang berceracao marah pada Zenya serta menunjukan ketidak sukaannya pada Boris.
Tak betah berlama-lama mendengarkan, mereka bergegas pulang meninggalkan Ibu Zenya sendiri dengan kemarahannya. Diperjalanan pualang, Zenya dan Boris kembali bertengkar. Zenya mengutarakn penyesalalnnya kala menikah dengan Boris dan berfikir akan bahagia jika hidup bersamanaya. tapi yang didapat Zenya hanya sakit dan kekecewaan. Zenya mulai mmbicarakan tentang Anton yang mencintainya tanpa syarat. Mendengar itu membuat Boris makin kesal, ia meminggirkan mobilnya dan menurunkan Zenya dijalanan. Pencarian itu terus dilakukan, relawan mulai memasuki hutan sambil meneriaiki nama Aleosa, namun hasilnya nihil. Ivan mulai menyelidiki kawasan perkotaan dengan bantuan Polisi yang menyediakan akses CCTV untuk menyelidiki jejak Aleosa, namun Aleosa tak terlihat di rekaman CCTV manapun.
Penyelidikan semakin sulit Boris bahkan mengabaikan Masa yang saat itu mengajaknya bertemu, sementara Zenya yang sedang beristirahat ditempat Anton, kemudian menghubungi Ivan meminta arahan selanjutnya agar Zenya bisa membantu pencarian. Ivan meminta Zenya utk mencari Aleosa dirumah sakit. Ivan dan Boris sedang melakukan sedang melakukan penyelidikan disekoalah dengan menginterogasi teman satu-satunya Aleosa yang bernama Kuznet. Ia meminta untuk memeberi tahu tempat biasa mereka bermain. Setelah dipaksa mengatakannya Kusnet memandu mereka kemarkas yang terletak ditengah hutan. Sebuah banguan kosong yang terbengkalai. Boris menemukan jaket merah Aleosa diruangan bawah tanah, namun tak ada Aleosa disana, meski mereka telah menyusuri semua bagian gedung kosong itu. Boris mulai bersedih membayangkan keadaan Aleosa sekarang.
Dirumah sakit Zenya melakukan pencarian bersama Lena dan Anton. Perawat memberi tahu bahwa ada anak yang ciri-cirinya sama dengan Aleosa yang datang diantarkan oleh Polisi. Anak itu masih tak mau berbicara, dengan harap-harap cemas Zenya mengikuti perawat menuju ruang rawat. Anak berambut pirang sedang tertidur disana dengan membelakangi pintu masuk, Sayangnya itu bukan Aleosa, Boris bersama relawan lain mulai memasuki hutan lagi, meneriaki nama Aleosa namun tak ada jawaban apapun. Mereka tiba disungai tanpa menamuakan jejak dan memutuskan untuk kembali.
Boris sempat bertanya mengapa mereka tak menyusuri sungai, namun relawan menolak karena itu bagia dari tugas Polisi. Dengan kecewa Boris ikut kembali, akibat cuaca memburuk meraka kini hanya fokus melakukan pencarian diperkotaan menyebarkan poster pencarian dimana-mana dan mengawasi tempat-tempat tertentu. Namun orang-orang terlihat tak begitu peduili pada poster-poster yang tersebar itu. Pencarian pada hari itupun selesai Boris dan Zenya kembali ketempat pasangan baru masing-masing dengan sangat kelelahan akibat anak satu-satunya menghilang.
Hari berikutnya Ivan membawa Boris dan Zenya yang ditemani Anton kerumah sakit. Ivan meminta mereka menunggu didepan kamar mayat. Sementara Ivan memanggil Dokter yang sedang berada diruang otopsi. Setelah Dokter masuk kekamar mayat, Ivan meminta Boris dan Zenya untuk masuk kedalam, raut wajah keduanya sangat tegang dan khawatir dengan nada yang simpati Ivan memberitahuakan ini akan mejadikan sesuatu yang berat untuk dilihat oleh Zenya dan Boris. mencoba tegar Zenya berkata ia siap melihat siapa yang berada dibalik kantung jenazah.
Ivan menyingkap kantung yang menutupi jenazah itu, Zenya panik dan menutup wajahnya, kemudian mulai menangis terisak, Ivan memperhatikan Zenya. Kali ini Zenya mulai menyangkal dan mulai mengatakan bahwa mayat itu bukan Aleosa karena mayat itu nampak berbeda. Ia terus menangis dan meminta agar mayat dengan luka disekujur tubuhnya itu dipindahkan. Zenya masih terus menyangkal hingga Ivan mengatakan akan melakuan tes DNA untuk meyakinkan dugaan . Boris yang diam saja membuat Zenya kesal dan berteriak histeris sambil menagis ia memukuli Boris higga Ivan memisahkan Zenya serta membawanya keluar. Setelah Zenya ditangani oleh Anton, Boris menagis tersedu-sedu dikamar mayat. Ivan memandanginya dengan iba.
Beberapa bulan semenjak kejadian itu, apartemen yang mereka tempati kini sedang direnovasi dan berganti pemilik. Dari jendela dibekas kamar Aleosa terlihat taman yang telah dipenuhi salju dan anak-anak yang bermain sky disana. Boris memulai hidup dengan keluarga barunya bersama Masa. Ia kini telah memiliki seorang anak perempuan namun hal yang terjadi pada Aleosa ternyata tak cukup untuk mengubahnya. Ia masih tak memperhatikan anaknya dan justru memindahklan putrinya itu dengan kasar hingga menagis karena mengganggu Boris yang sedang menonton tv.
Sementara Zenya kini hidup bersama Anton juga tak ada yang berubah darinya, ia masih selalu sibuk dengan ponsel ditangannya. Zenya keluar ruangan ketika berita yang anton tonton menampilkan seorang perempuan yang tak lain adalah Ibu Zenya yang sedang berteriak dan mengajukan protes ditelevisi. Memang tak banyak yang berubah sepeninggalan Aleosa selain poster pencarian yang kini telah memudar dijalan jalan.
Sekian

0 Komentar